7 Kuliner Ekstrem di Dunia, Jangan Dilihat Kalau Nggak Kuat!

Buat kamu pecinta kuliner ekstrem, pasti jadi petualangan dan keseruan tersendiri untuk mencoba berbagai kuliner tak biasa yang ada di berbagai daerah atau negara. Mungkin kamu punya alasan tersendiri kenapa suka banget bertualang mencicipi aneka kuliner ekstrem. Bisa jadi kamu memang penasaran dengan rasanya. Tapi bisa jadi (seperti kebanyakan pecinta kuliner ekstrem lainnya), alasanmu mencicipi kuliner ekstrem adalah karena ingin cari sensasi.


Ngomong-ngomong soal sensasi, sudahkah kamu mencicipi menu makanan yang super ekstrem berikut ini? Makanan-makanan ekstrem ini berasal dari berbagai negara. Kebanyakan memang dari negara-negara di Asia. Melihat tampilannya sih memang bisa bikin syok sendiri. Kalau kamu nggak kuat, mending jangan dilihat deh daripada nanti mual sendiri.

Tapi kalau penasaran, nggak ada salahnya untuk mengikuti info menariknya di sini. Sekalian buat nambah wawasan soal kuliner unik dan ekstrem yang ada di dunia.

Shiokara dari Jepang


Doyan dengan makanan mentah? Menu yang satu ini wajib kamu coba. Shiokara, makanan asal Jepang ini merupakan pasta ikan yang difermentasi. Terbuat dari campuran cumi-cumi dan jeroan ikan cakalang serta ragam ikan lainnya. Jeroan cumi-cumi dicampurkan dengan 10 persen garam dan 30 persen nasi yang sudah dicampur bubuk ragi. Kemudian disimpan dalam botol yang ditutup rapat dan disimpan selama sebulan untuk proses fermentasi.

Menu yang asin dengan tampilan mungkin kurang menggugah selera ini sering dimakan selayaknya acar di Jepang. Shio sendiri dalam bahasa Jepang berarti asin dan Shiokara artinya warna abdomen (perut). Bagi orang yang tak biasa (bukan orang Jepang) mungkin langsung kehilangan nafsu makan ketika melihat tampilan menu ini. Tapi buat yang suka dengan menu-menu unik khususnya olahan laut, wajib banget dicoba.

Tarantula Goreng dari Kamboja


Tarantula goreng ini menu yang sangat populer di Skuon, Kamboja. Bahan-bahan yang digunakan pun sebenarnya cukup sederhana. Cukup MSG, gula, dan garam. Tarantula pun bisa langsung ditumis dengan bawang putih cincang. Dagingnya memang lebih tebal atau lebih banyak dari belalang. Selain itu, ada sensasi tersendiri saat menggigit bagian perutnya yang terdiri dari jeroan, telur, dan kotorannya. 

Rasanya terbilang cukup krispi dan renyah. Untuk menikmatinya, kita bisa memulainya dengan mencopoti kaki-kakinya lalu mengunyahnya satu per satu. Tapi tetap harus hati-hati ketika mengunyahnya karena bisa menusuk gusi dan menyebabkan luka. Menurut kepercayaan para wanita Khmer, makan satu ekor tarantula bisa bikin cantik. Wah, agak serem juga ya sebenarnya. 

Kepopuleran tarantula jadi makanan ekstrem bermula di rezim Khmer Merah sekitar tahun 1975-1979. Saat itu, bencana kelaparan ada di mana-mana dan apapun yang bisa dimakan akan dimakan. Setelah rezim Khmer Merah berakhir, masyarakat Kamboja menyadari kalau tarantula ternyata enak juga untuk dimakan. 

Balut dari Filipina


Balut, makanan yang satu ini sangat populer sebagai jajanan kaki lima di Filipina. Balut merupakan embrio itik yang direbus hidup-hidup. Jadi saat kita memakannya, kita akan merasakan sensasi jeroan yang berlendir dan lembut embrio. Embrio bebek yang dijadikan balut biasanya berusia sekitar 16-2 hari. Idealnya sih embrio yang berusia 17 hari. 

Untuk sebutir balut, umumnya kita harus merogoh kocek sejumlah 32 peso atau 8.600 rupiah. Masyarakat Filipina meyakini kalau kadar protein balut sangat tinggi, bahkan lebih bagus dari telur ayam. Balut bisa ditemukan di berbagai tempat di Filipina, mulai dari pedagang di pinggir jalan hingga restoran-restoran mewah di sana.

Beondegi dari Korea


Kalau yang satu ini camilan terkenal dari Korea. Secara harfiah, beondegi dalam bahasa Korea berarti kepompong atau pupa. Jadi kepompong ulat sutra ini dikukus atau direbus dalam panci besar. Mudah sekali menemukannya di pinggir jalan atau pasar-pasar tradisional di Korea. Orang Korea biasanya "ngemil" beondegi ini dengan ditemani soju, minuman alkohol Korea. 

Camilan yang satu ini pertama kali muncul saat pecah Perang Korea di mana saat itu kebutuhan akan protein sangat tinggi sementara sumber protein yang tersedia terbatas. Sehingga dicarilah ragam alternatif sumber protein lainnya, salah satunya dengan mengonsumsi kepompong ulat sutra ini. Sekarang, beondegi biasanya dimasak dengan campuran gula dan kecap untuk menguatkan rasanya.

Hormigas Culonas dari Kolombia


Kuliner yang satu ini sepintas mungkin seperti kacang. Tak lain karena bentuknya yang bundar dan warnanya yang kecokelatan seperti kacang tanah goreng. Tapi jangan salah sangka, ini adalah camilan yang berbahan dasar semut. Yups, kamu nggak salah baca. Ini adalah camilan berbahan semut.

Umumnya dipanen saat musim semi, culonas dikenal sangat bergizi dan kaya protein serta rendah lemak jenuh. Biasanya diolah dengan cara digoreng atau disangrai dengan garam. Culonas memang bukan semut biasa. Ia adalah jenis semut yang berbokong besar dan berjenis kelamin betina. Penduduk setempat sangat menggemari camilan ini karena meyakini adanya kandungan afrodisiak (zat kimia yang digunakan untuk merangsang daya seksual) di dalamnya.

Gaeng Kai Mot Daeng dari Laos


Gaeng Kai Mot Daeng, kuliner yang satu ini juga tak kalah uniknya. Populer di Laos, makanan ini sejenis sup yang mengombinasikan telur semut, sebagian embrio semut putih, dan beberapa anak semut untuk memperkuat rasa asamnya. Bentuk dan tekstur telur semut bisa dibilang agak mirip nasi. Wah, terbayang nggak gimana rasanya, enak nggak ya?

Mungkin untuk kandungan proteinnya bisa didapat dari semut. Hanya saja bagi yang tak terbiasa jelas nggak akan mudah untuk bisa mencicipi atau malah melahapnya. Di Indonesia, ada nggak ya kuliner yang seperti ini?

Casu Marzu dari Italia


Pada dasarnya, kuliner yang satu ini adalah keju dari susu domba. Yang membuat Casu Marzu berbeda adalah karena proses fermentasinya. Di dalamnya adalah belatung hidup. Saat keju ini siap dikonsumsi, belatung di dalamnya juga bisa langsung dimakan karena bentuknya yang putih transparan. Tapi hati-hati kalau makan keju ini karena belatung di dalamnya punya kemampuan melompat hingga sampai setinggi 15 cm. Jadi jangan kaget kalau pas asyik makan, tiba-tiba ada belatung yang loncat ke wajahmu.

Nah, kira-kira kamu bakal tertarik untuk mencicip kuliner ekstrem yang mana nih?

Source vemale.com (berbagai sumber)
Advertisement
MatchedContent

No comments

Terimakasih Telah Berkunjung, Silahkan Berkomentar Dengan Selalu Mengikuti Peraturan. Dilarang Menggunakan Kalimat Yang Mengandung (SARA, RASIS, PORNOGRAFI, PROVOKATIF & KEBENCIAN).

Powered by Blogger.