Tak Berasal Dari Bumi, Lalu Darimana Asalnya Emas?

Emas merupakan logam yang bersifat lunak dan mudah ditempa, kekerasannya berkisar antara 2,5 – 3 (skala Mohs), serta berat jenisnya tergantung pada jenis dan kandungan logam lain yang berpadu dengannya. Mineral pembawa emas biasanya berasosiasi dengan mineral ikutan (gangue minerals). Mineral ikutan tersebut umumnya kuarsa, karbonat, turmalin, flourpar, dan sejumlah kecil mineral non logam. Mineral pembawa emas juga berasosiasi dengan endapan sulfida yang telah teroksidasi. Mineral pembawa emas terdiri dari emas nativ, elektrum, emas telurida, sejumlah paduan dan senyawa emas dengan unsur-unsur belerang, antimon, dan selenium. Elektrum sebenarnya jenis lain dari emas nativ, hanya kandungan perak di dalamnya >20%.

Dijaman sekarang ini emas adalah barang yang mewah dan berharga serta mempunyai nilai yang tinggi. Bila dikumpulkan, seluruh emas di Bumi diperkirakan hanya bisa mengisi 3 buah kolam renang untuk olimpiade. Tak aneh bila harganya selangit.Tapi tahukah anda bagaimana terciptanya emas dan darimana emas berasal sedangkan emas bukan berasal dari bumi ?

1. Emas berasal dari luar angkasa

Galaxi
Emas tidak terbentuk di Bumi layaknya minyak atau berlian, tetapi dari luar angkasa. Penelitian memperkirakan bila emas berasal dari meteor yang membombardir Bumi sekitar 200 juta tahun setelah planet kita ini terbentuk.

Namun, hal ini masih belum bisa menjelaskan dari mana terbentuknya logam mulia itu. Sebab tentu meteor tidak begitu saja 'ditumbuhi' emas, demikian halnya planet lain selain Bumi. Emas tidak dapat terbentuk di planet.

2. Semua berawal dari bintang

Crab Nebula
Ya, emas berasal dari bintang, seperti halnya matahari kita. Tetapi emas di Bumi tidak berasal dari matahari, melainkan bintang lain yang jauh dari Bumi dan telah mati. Penelitian membuktikan bila emas berasal dari supernova. Supernova adalah periode di mana sebuah bintang tidak lagi bisa melakukan reaksi nuklir dan kemudian meledak.

Ledakan bintang yang sangat dahsyat ini membuat partikel positif dan negatif bergabung, membentuk partikel bermuatan netral atau neutron. Karena tidak memiliki muatan, neutron dengan mudah bergabung dengan zat lain di angkasa, seperti besi.

3. Dari besi berubah jadi emas

Bijih Emas
Ketika besi terlalu banyak bergabung dengan neutron, maka lama kelamaan dia akan berubah menjadi logam dengan massa yang lebih besar, yakni perak. Masih sama seperti besi, perak kemudian kembali 'memakan' neutron dalam jumlah besar hingga akhirnya menjadi emas. Bila si emas masih terus bergabung dengan neutron, maka logam mulia ini akan menjadi timbal, sebelum akhirnya menjadi zat radioaktif Uranium.

Berkat ledakan supernova yang memancarkan energi sangat besar, proses evolusi dari besi menjadi emas bisa berlangsung dalam hitungan detik. Padahal proses normalnya membutuhkan waktu jutaan tahun. Ledakan itu juga mengakibatkan debu-debu emas ini melesat ke seantero galaksi sekitar, seperti halnya Bima Sakti, hingga akhirnya Bumi.

4. Mampukah manusia menciptakan emas?

Large Hadron Collider
Sejak ratusan tahun lalu, ahli kimia berupaya membuat emas. Salah satu kisahnya yang terkenal tentu batu 'bertuah' atau The Philosopher Stone. Batu ini disebut dapat mengubah besi menjadi emas, layaknya proses pembentukan emas di supernova.


Meskipun hal tersebut hanyalah legenda, saat ini manusia ternyata bisa membuat emas sendiri. Cara utamanya menggunakan teknologi penumbuk partikel Large Hadron Collider (LHD) yang ada di Jenewa, Swiss.

Dengan LHD, ilmuwan dapat mengubah kembali timbal menjadi emas lewat serangkaian reaksi nuklir. Sayangnya, proses pengembalian timbal menjadi 1 gram emas membutuhkan waktu setidaknya 13 miliar tahun lebih atau sama dengan umur alam semesta sampai saat ini.
(sandk, Ted-Ed, merdeka.com, wikipedia.com)
Advertisement
MatchedContent

No comments

Terimakasih Telah Berkunjung, Silahkan Berkomentar Dengan Selalu Mengikuti Peraturan. Dilarang Menggunakan Kalimat Yang Mengandung (SARA, RASIS, PORNOGRAFI, PROVOKATIF & KEBENCIAN).

Powered by Blogger.