Memaafakan Memang Mudah Tapi Melupakan Kesalahannya Tidak Mudah!

Memaafkan adalah sikap yang tidak ringan. Oleh karena itu, memaafkan hanya bisa dilakukan oleh pribadi-pribadi yang kuat sejati. Kuat mengendalikan hawa nafsu, kuat mengontrol amarah dan meredam dendam. Memaafkan adalah kemampuan yang hanya dimiliki oleh orang beriman, karena ia yakin bahwa Allah pasti benar, membalas kejahatan dengan kebaikan justru akan membangkitkan kebaikan yang lebih besar lagi. Sebaliknya, membalas keburukan dengan keburukan hanya akan menimbulkan keburukan yang lebih besar lagi.

Ketika ada seseorang berbuat kesalahan dan sangat melukai perasaanmu, rasanya sulit untuk langsung memaafkannya begitu saja. Sebagai contoh, seseorang yang begitu kamu cintai mengaku khilaf telah menduakanmu atau ada sahabat yang begitu kamu percaya tapi malah mengkhianatimu. Saat hati sudah terluka, memberi maaf jelas bukan hal yang mudah untuk dilakukan.

Melupakan kesalahan tak mudah
Memaafkan Itu Mudah Tapi Juga Meninggalkan Sebuah Luka

Mudah kok memaafkan. Bahkan memintanya untuk minta maaf terlebih dahulu pun sebenarnya bukan hal yang begitu rumit. Hanya saja segalanya akan terasa berbeda. Ada luka yang ditorehkan. Ada lubang dalam hati yang kemudian meninggalkan keresahan. Banyak hal yang terasa berbeda. Dia yang kamu kenal bukan lagi orang yang sama. Dia telah melukaimu, sulit untuk bersikap seperti dulu lagi padanya.

“It is always so simple, and so complicating, to accept an apology.”
― Michael Chabon 

Memaafkan dan Melupakan Kesalahan yang Ia Perbuat Bisa Jadi Dua Hal yang Berbeda

Memberi maaf bisa dilakukan dalam detik yang sama. Tapi butuh waktu lama hingga bertahun-tahun untuk melupakan kesalahan yang pernah ia perbuat. Sekalipun kamu sudah memaafkannya, memandangnya akan memberi rasa yang berbeda. Setiap kali kamu berusaha untuk melupakan kesalahan yang ia perbuat, semakin kuat ingatan akan luka yang pernah ia berikan padamu. Menghabiskan waktu bersamanya menjadi hal yang terasa begitu menyiksa.

Kita Rela Memaafkan karena Kita Tak Ingin Ada Hubungan yang Retak

Sakit hati ini rasanya ketika harus memaafkan orang yang berbuat salah pada kita. Lebih menyakitkan lagi ketika kita kemudian yang malah meminta maaf hanya karena kita tak ingin membuat "si pihak bersalah" merasa sakit hati. Keadaan memang bisa terasa begitu rumit. Hanya saja kadang kita memang harus rela korban perasaan karena yang kita inginkan adalah hubungan yang sudah terbangun tak retak. Kita menghargai ikatan yang sudah ada daripada memenangkan ego pribadi.

“Apologizing does not always mean you're wrong and the other person is right. It just means you value your relationship more than your ego.”
― Mark Matthews 

Meski Sulit untuk Melupakan Kesalahan yang Lalu, Memaafkan Jadi Cara untuk Membuka Lembaran Baru

Setelah memaafkan, bukan jaminan kita akan lupa begitu saja dengan kesalahan yang ia perbuat. Luka yang sudah kamu rasa meskipun sudah hilang, bekasnya kadang masih bisa terlihat. Ada yang berubah dalam hubungan dan caramu berkomunikasi dengannya. Tapi selalu ada cara untuk membuka lembaran yang baru.

“An apology is the superglue of life! It can repair just about anything!!”
― Lynn Johnston 

Hidup kita memang tak selalu berjalan sesuai dengan keinginan dan harapan. Orang-orang yang kita kenal pun bisa berubah dengan cara yang tak disangka. Menyakiti dan tersakiti jadi bagian dari hubungan kita dengan orang di sekitar kita. Kenyataan ini memang sulit diterima tapi begitulah adanya.

Saat hati sudah tersakiti oleh seseorang, memaafkannya jadi tugas terberat kita. Tapi dengan begitu kita akan belajar jadi lebih dewasa.

Baca Juga:

(Ref: diahanggra, catatansandk.com, vemale.com)
Advertisement
MatchedContent

No comments

Terimakasih Telah Berkunjung, Silahkan Berkomentar Dengan Selalu Mengikuti Peraturan. Dilarang Menggunakan Kalimat Yang Mengandung (SARA, RASIS, PORNOGRAFI, PROVOKATIF & KEBENCIAN).

Powered by Blogger.