6 Aplikasi Anti Pelecehan Seksual Yang Harus Kamu Tahu! Khususnya Wanita!

Perangkat lunak aplikasi (bahasa Inggris: software application) adalah suatu subkelas perangkat lunak komputer yang memanfaatkan kemampuan komputer langsung untuk melakukan suatu tugas yang diinginkan pengguna. Biasanya dibandingkan dengan perangkat lunak sistem yang mengintegrasikan berbagai kemampuan komputer, tapi tidak secara langsung menerapkan kemampuan tersebut untuk mengerjakan suatu tugas yang menguntungkan pengguna. Contoh utama perangkat lunak aplikasi adalah pengolah kata, lembar kerja, dan pemutar media.

Karena akhir-akhir ini banyak sekali kasus-kasus pelecehan seksual bagi wanita, khususnya wanita yang dibawah umur. Banyak petinggi-petinggi daerah menghimbau agar terhindar dari pelecehan tersebut. Tak mau kalah, para programmer memebuat aplikasi untuk menghindarkan kamu dari pelecehan tersebut. Yuk langsung saja simak!

1. Women’s Safety App baru saja diluncurkan di Pakistan. Pencet satu tombol, polisi langsung akan datang

Women's Safety
Awal tahun 2017 ini pemerintah provinsi Punjab di Pakistan meluncurkan women’s safety app yang merupakan kerja sama antara Special Monitoring Unit dari Staf Perdana Menteri, Otoritas Keamanan Warga dan Komnas Nasional Punjab. Aplikasi ini diciptakan sebagai platform bagi perempuan melaporkan pelecehan seksual yang dialaminya. Selain itu, aplikasi ini juga akan dilengkapi dengan sebuah tombol yang langsung terhubung dengan Punjab Women Helpline dengan menginformasikan pelaporan sekaligus lokasi kejadian via GPS, ketika pemilik ponsel mengalami kekerasan seksual.

2. Amerika Serikat punya Circle of 6, yang akan menghubungi 6 orang terdekat saat kamu berada dalam situasi tidak aman

Circle of 6
Sama seperti women’s safety app, aplikasi ini juga berfungsi sebagai pengaman pribadi. Bedanya, aplikasi ini akan memintamu memasukan 6 orang terdekat yang paling kamu percayai. Ketika sesuatu yang buruk terjadi, kamu bisa langsung menekan tombol untuk mengirim pesan darurat kepada keenamnya seperti “Come and get me. I need to go home safely”. Misalkan kamu bertemu seseorang yang sedang kamu hindari, kamu juga bisa kirim pesan ke inner circle-mu “Call and pretend you need me. I need an interuption.”. Selain itu ada pula hotline yang bisa cepat terhubung bila kamu sedang mengalami kejahatan.

3. Aplikasi Kitestring akan menjadi ‘pelacak jejak’-mu. Saat kamu tak bisa dihubungi, tanda darurat akan segera dikirim ke kontakmu

Kitestring
Menyasar agar pengguna bisa melakukan perjalanan yang lebih aman, Kitestring bekerja sebagai perekam jejak. Misalkan hari ini kamu pulang malam dari kantor. Kamu bisa memasukkan data jam berapa kamu berangkat dan estimasi jam kamu akan sampai di rumah. Di jam yang ditentukan, Kitestring akan mengecek apakah kamu sudah sampai di rumah atau belum melalui sebuah pesan. Bila pesan itu tidak terjawab, secara otomatis, Kitestring akan mengirimkan pesan darurat kepada kontak-kontak darurat yang kamu masukan di sana.

4. Bekerja dengan lebih halus, aplikasi Not Your Baby akan memberikan informasi cara-cara menanggulangi pelecehan seksual

Not Your Baby
Karena masih dianggap tabu, banyak korban pelecehan seksual yang tidak tahu apa yang dilakukan saat menerima perlakukan nggak menyenangkan. Dari 10 korban, barangkali hanya 1 yang punya kesadaran untuk melapor. Karena itu, aplikasi Not Your Baby hadir sebagai ‘teman’ yang bisa memberimu info apa yang harus dilakukan saat abang-abang di pinggir jalan bersiul padamu atau saat teman kerja di kantor mengerling kurang ajar. Selain itu, aplikasi ini juga menyediakan informasi tentang fakta dan kisah-kisah seputar pelecehan seksual yang bisa membuatmu waspada.

5. Chichago punya aplikasi Here For You, yang akan mengamankan kehidupan di sekitar kampus

Here For You
Aplikasi ini diluncurkan pada tahun 2014 lalu oleh Loyola University di Chichago, sebagai bentuk pengamanan kehidupan kampus. Selain menjadi sarana untuk melaporkan penyerangan kekerasan ataupun pelecehan seksual di sekitar kampus, aplikasi ini juga bertujuan untuk memberikan ruang bagi korban untuk bicara sementara teman lain memberikan saran-saran yang bermanfaat. Karena selama ini, tidak mudah bagi korban pelecehan seksual untuk menceritakan apa yang dialaminya. Dengan konsep easy-tech yang khas anak muda, staf Universitas Loyola berharap aplikasi ini bisa membantu mahasiswa untuk merasa lebih aman dalam kehidupan kampus.

6. Aplikasi di atas, tentu tidak berjalan di Indonesia. Pertanyaannya, apakah Indonesia sudah punya aplikasi yang fungsinya sama?

Help
Pertengahan tahun lalu, bekerja sama dengan kedutaan besar Amerika untuk Indonesia, kepolisian dan Komnas Perempuan merencanakan aplikasi HELP yang kurang lebih mirip dengan Circle of 6. Ada 4 tombol penting yang tersedia; Emergency Button yang terhubung dengan Komnas Perempuan, Kementerian Sosial, International Organization for Migration (IOM), dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), 110 Button, Buzz Button, dan SOS Button yang terhubung dengan polisi.

Andaikan kamu sedang naik taksi yang mencurigakan, kamu bisa menekan tombol-tombol di atas dan pihak-pihak yang terlibat akan mulai melacak lokasimu. Selain aplikasi ini, pemerintah DKI Jakarta juga sedang mengembangkan aplikasi pengaman yang diadaptasi dari India, Safety Pin. Sayangnya, hingga saat ini belum ada informasi lebih lanjut apakah kedua ini sudah diluncurkan atau belum. Mungkin kamu tahu soal perkembangan aplikasi ini?

Memang sebuah aplikasi smartphone tidak menyelesaikan persoalan mendasar dari pelecehan seksual. Ibarat sakit kepala, aplikasi-aplikasi itu hanyalah obat pereda nyeri yang tidak menghilangkan penyebab munculnya sakit kepala itu. Dalam kasus pelecehan seksual, ada banyak masalah yang jadi faktornya. Mulai dari prinsip dominasi gender yang memprihatinkan, hukum yang terkesan longgar, pendidikan yang tidak berjalan, hingga pola pikir masyarakat yang cenderung menyalahkan korban, sehingga sementara korban depresi si pelaku justru bebas tebar pesona di media sosial.

Meskipun hanya berjalan di permukaan, aplikasi-aplikasi keamanan ini layaklah kita apresiasi. Setidaknya ada pergerakan penanggulangan dan smartphone bisa menjadi alat yang lebih berguna dari sekadar untuk stalking mantan. Namun jalan kita untuk menyelesaikan soal pelecehan seksual ini masih sangat panjang, dan menjadi tanggung jawab semua orang. Karena pelecehan seksual bukan semata-mata soal penyaluran birahi yang tidak pada tempatnya, melainkan menunjukkan ada sesuatu yang ‘salah’ dalam masyarakat. Tentu yang lebih perlu untuk diajarkan adalah ‘Don’t rape’, bukan ‘Do not get raped’.

Baca Juga:
  1. Kocak, Tentara Ini Menahan Ketawa Karena Ayam Karet
  2. Ternyata Ini Yang Terjadi Jika Anda Memakan 3 Butir Telur Utuh Setiap Harinya
  3. Tak Terima Ditilang Pegawai MA Ini Hajar dan Cakar Petugas Lalu Lintas di Jatinegara
  4. Ternyata Ada Manfaat Di Buah Jeruk Purut
  5. Beginilah Rasanya Malam Pertama di Dalam Alam Kubur
(Ref: diahanggra, catatansandk.com, hipwee.com)
Advertisement
MatchedContent

No comments

Terimakasih Telah Berkunjung, Silahkan Berkomentar Dengan Selalu Mengikuti Peraturan. Dilarang Menggunakan Kalimat Yang Mengandung (SARA, RASIS, PORNOGRAFI, PROVOKATIF & KEBENCIAN).

Powered by Blogger.