Wow, Kekurangan Tahanan, Penjara di Belanda Berubah Menjadi Rumah Bagi Para Pengungsi

Belanda merupakan salah satu negara terpadat di dunia. Belanda juga terkenal akan tanggul (dijk), kincir angin, terompa kayu, tulip, dan masyarakatnya yang terbuka, dan liberal.

Di saat negara lain disibukkan dengan meningkatnya angka kriminalitas, hal sebaliknya terjadi di Belanda.

Di negeri ini, angka kriminalitas terus menurun sehingga jumlah penjahat "tak memadai" untuk mengisi penjara-penjara di negeri itu. Dari sudut pandang sosial, tentu saja, hal ini sangat bagus karena menunjukkan angka kejahatan yang rendah.

Pemerintah Belanda sebenarnya tak tinggal diam untuk mencari solusi dari masalah ini. Belanda bahkan sudah "menyewakan" penjaranya untuk Belgia dan Norwegia.

Alhasil penjara di Haarlem beralih fungsi jadi penampungan sementara bagi para pengungsi. Di penjara mereka malah merasa aman dan nyaman.

1. Jumlah penjahat turun, arus pengungsi melonjak

1. Jumlah penjahat turun, arus pengungsi melonjak
Belanda telah membuka pintu penjaranya yang kosong untuk mengakomodasi masuknya migran pencari suaka. Tingkat kejahatan di negara itu telah terus menurun selama bertahun-tahun. Puluhan lembaga pemasyarakatan telah ditutup sama sekali. Ketika árus pengungsi melonjak, Badan Pusat Penerimaan Pencari Suaka Belanda melihat penjara-penjara kosong ini sebagai solusi.

2. Hidup dalam sel

2. Hidup dalam sel
Fotografer Muhammed Muheisen, dua kali peraih pengghargaan Pulitzer Prize dan kepala fotografer Associated Press untuk Timur Tengah, dalam beberapa tahun terakhir memotret krisis pengungsi. Ia mengabadikan kehidupan baru para pengungsi yang ditampung di penjara kosong ini. Tampak dalam foto, seorang gadis Afghanistan bernama Shazia Lutfi melongok dari pintu sel.

3. Bisa juga jadi salon

3. Bisa juga jadi salon
Butuh enam bulan bagi sang fotografer untuk diizinkan masuk ke penjara tersebut. Berhari-hari waktu dihabiskannya untuk mengenal pengungsi lebih dekat. tampak dalam foto, Yassir Hajji, asal Irak, tengah merapikan alis istrinya, Gerbia, di sebuah ruang sel.

4. Belajar bahasa Belanda

4. Belajar bahasa Belanda
Pengungsi tidak diizinkan untuk bekerja, tetapi mereka berlatih berbicara bahasa Belanda dan naik sepeda --keterampilan penting untuk hidup di Belanda. Karena mereka melakukan semua itu di penjara, maka tidak mengusik warga. Pada umunya para pengungsi berkomentar: "Kami di sini di bawah atap, di tempat penampungan, jadi kami merasa aman."

5. Bebas untuk tinggal maupun pergi

Bebas
Para pengungsi tersebut tinggal di penjara sekitar 6 bulan sebelum mendapat keputusan suaka. Mereka bebas untuk tinggal dan pergi kapan saja. Beberapa pengungsi bahkan menjalin persahabatan dengan warga Belanda.

6. Tak ada penjahat, aman untuk tinggal

6. Tak ada penjahat, aman untuk tinggal
Seorang pengungsi Suriah bahkan berkata pada Muhesein, bahwa penjara ini memberinya harapan untuk hidup. “Jika sebuah penjara tak ada tahanannya, maka artinya ini adalah negara yang aman, dimana saya ingin hidup.” Pengungsi lainnya,asal Afghanistan --Siratullah Hayatullah tampak asyik minum teh dengan tenang di depan kamarnya.

7. Fasilitasnya lengkap

Fasilitasnya lengkap
Pengungsi Afghanistan Siratullah Hayatullah mencuci pakaiannya di ruang cuci. Infrastruktur dalam penjara cukup lengkap sehingga memudahkan pengungsi untuk menjalani hidup mereka sementara.

8. Tanpa diskriminasi

8. Tanpa diskriminasi
Pengungsi asal Maroko ini berpose di dalam kamarnya di penjara. Ia seorang gay. Selama di sini, tak pernah ia merasakan diskriminasi. Sebelumnya penjara di Belanda pernah dimanfaatkan juga untuk menampung tahanan dari Belgia dan Norwegia.

9. Bebas beribadah

9. Bebas beribadah
Pengungsi Irak, Fatima Hussein beribadah di ruangannya di bekas penjara de Koepel di Haarlem.

10. Sehat jasmani dan rohani

10. Sehat jasmani dan rohani
Meski boleh keluar masuk penjara sesuka hati, bisa jadi kadang-kadang timbul rasa bosan. Mereka bisa juga berolah raga untuk mengisi waktu senggang.

11. Main basket juga bisa

11. Main basket juga bisa
Pengungsi asal Mongolia, Naaran Baatar, berusia 40 tahun. Di penjara, ia bisa main basket. Di hatinya terpupuk harapan akan hidup baru dan kebebasan.

12. Menenun harapan haru

12. Menenun harapan haru
Pengungsi Somalia, Ijaawa Mohamed, duduk di kursi di luar ruangan. Meski tinggal di penjara, mereka rata-rata merasa aman dan menenun harapan atas kehidupan baru.

Baca Juga :
  1. Astaga Pria Tampan Ini Menjual Jasa Seks Untuk Menghamili Seorang Wanita
  2. Subhanallah Tanda Kiamat Mulai Muncul, Salju Turun di Gurun Sahara Setelah 37 Tahun
  3. Astaga, Segelintir Warga Papua Robek Serta Bakar Bendera Merah Putih Ini Viral di Sosial Media
  4. Hemat dan Pelit Beda Tipis. Ini Tips Cara Hemat Tanpa Dibilang Pelit!
  5. Inilah Ritual Pahlevāni, Ritual Seni Bela Diri Tertua di Dunia

(Ref: sandk, catatansandk.com, dw.com,  ap/as (nationalgeograpic,smh,nbc,dailymail) Foto: Muhammed Muheisen (ap))
Advertisement
MatchedContent

No comments

Terimakasih Telah Berkunjung, Silahkan Berkomentar Dengan Selalu Mengikuti Peraturan. Dilarang Menggunakan Kalimat Yang Mengandung (SARA, RASIS, PORNOGRAFI, PROVOKATIF & KEBENCIAN).

Powered by Blogger.