Cahaya Hidayah Diperang Teluk

Ketika itu ia adalah seorang pemuda tamatan Sekolah Menengah. Berdinas aktif di US Army (Angkatan Darat Amerika Serikat) selama beberapa tahun, dimana ia memperoleh kesempatan belajar beberapa kemampuan teknis. Kini ia menghidupi diri dan keluarganya dengan menggeluti usaha jasa perbaikan mesin fotocopy dan mesin fax. 

Gambar via mualaf.com

Sungguh menarik menyimak kisah awal mula Abdullah memeluk Islam. Namun jauh lebih menarik mengetahui bagaimana ia menyusuri proses Islamisasi diri. Ketika pecah Perang Teluk yang melibatkan Pasukan Amerika Serikat dengan Pasukan Irak, ia ditempatkan di Saudi Arabia. Suatu hari ia sedang berbelanja kebutuhan sehari-hari di pasar Saudi. 

Di sebuah toko, ia memilih barang, tawar menawar dengan penjaga toko, dan akhirnya sepakat atas harga yang harus dibayar untuk barang tersebut. Namun berkumdanglah Adzan panggilan shalat dari Masjid terdekat kala ia hendak membayar belanjaannya itu. “Cukup sudah!” kata penjaga toko itu kepadanya seraya menolak melakukan transaksi dagang apapun hingga selesai melaksanakan shalat. Toko pun ditutupnya dan ia bergegas pergi menuju Masjid. Abdullah begitu terperanjat dan tak habis pikir dengan kejadian kecil ini. Mengapa si penjual tidak mau mengambil uang yang telah menjadi haknya dengan terjadinya kesepakatan harga diantara mereka. Tak sekalipun dalam kehidupan Abdullah menjumpai orang yang menolak uang. Pada umumnya, di dunia bisnis, semua orang memburu uang dengan berbagai cara. Orang macam apakah si penjual itu? Agama apa pulakah yang begitu utama di matanya? 

Abdullah begitu penasaran dan ingin mengenal lebih banyak tentang agama itu. Dibacanya berbagai buku tentang Islam, semakin hari semakin banyak buku yang dibacanya dan akhirnya ketika kembali pulang ke Amerika ia memutuskan untuk memeluk Islam. Di New York, ia mendapatkan banyak guru yang baik yang mengajarkan kepadanya dasar-dasar pendidikan Islam. Iapun memperoleh pengajaran membaca Kitab Suci Al-Qur’an. Ini menjadikan Abdullah seorang Muslim yang sangat ketat menjalani keIslaman-nya. Saya baru mengenal Abdullah manakala ia pindah ke Detroit. Ia telah memutuskan untuk bermukim didekat Masjid Pusat Tauhid Detroit dan melaksanakan hampir dari seluruh shalat lima waktunya di Masjid ini. Pada waktu itu saya bekerja sukarela menjalankan kegiatan humas Masjid. Menjalankan hubungan kemasyarakatan sebuah organisasi Islam bisa menjadi tantangan tersendiri. 

Banyak kejadian antara akhi Abdullah dengan saya, yang cukup menimbulkan masalah sementara diantara kami berdua. Kami sama-sama tulus dengan cara kami masing-masing. Permasalahan diantara kamipun sirna tanpa bekas ditelan waktu. Bagaimanapun juga kejadian ini merupakan ujian kesabaran dalam berbeda pendapat dengan seseorang yang bisa saling berjumpa beberapa kali dalam sehari berkenaan dengan kegiatan Masjid. Suatu hari, saya meminta akhi Abdullah mengumandangkan adzan. Ia katakan bahwa itu akan dilakukannya diluar Masjid di tepi jalan raya. Saya katakan padanya bahwa kami telah melalui prosedur pendaftaran ke Pemerintah Kota Detroit dan Dinas Pemadaman Kebakaran setempat diawal pendirian Masjid. Dewan Kota telah mengadakan pengumpulan pendapat umum sebelum akhirnya mereka mengijinkan kami membangun Masjid. Namun ia tidak merasa perlu mendengar nasehat saya. Maka sayapun menegaskan dengan gamblang bahwa kalau itu tetap dilakukannya, maka saya harus berhadapan dengan masyarakat umum, Kejaksaan, Komisi Tata Ruang, dan juga Departemen Perencanaan Kota. Saya katakan dengan tegas kepadanya, “Anda hanya datang, shalat dan pergi meninggalkan Masjid. 

Tak pernahkah terbayangkan dalam pikiran anda bagaimana sulitnya pengalaman kami berhadapan dengan mereka di Balai Kota. Berbuat bijaklah dan berhati-hati dalam menjalankan keIslaman kita. Jangan sampai kita membuat lingkungan tetangga kita Non-Muslim merasa terganggu dan tergerak untuk mengajukan keberatan? Lagi pula, seyogyanya kita pusatkan perhatian kita pada menghidupkan Iman saudara-saudara Muslim kita daripada membuat masalah dengan para tetangga Non-Muslim di lingkungan kita ini.” Tetap saja nasehat saya ini tak dihiraukannya sama sekali. Ia tetap menolak mengumandangkan adzan dari dalam Masjid. Maka saya pun; seraya berdoa:”Wahai Allah maafkanlah hambamu ini”; terpaksa meminta orang lain untuk mengumandangkan Adzan. Secara kebetulan saya mengetahui bahwa hanya ada satu Masjid di Amerika Utara yang memiliki ijin meletakkan pengeras suara diluar Masjid. Keputusan yang diambil oleh pengadilan Dearborn, Michigan menguntungkan kaum Muslim karena hampir semua anggota masyarakat di likungan itu beragama Islam. 

Pernah juga akhi Abdullah meminta saya memberikan kunci Masjid kepadanya. Saya jelaskan bahwa Masjid hanya dibuka pada waktu-waktu shalat dan untuk keperluan asuransi telah dilakukan pembatasan kebebasan masuk Masjid. Beberapa minggu kemudian, ia meminta ijin kepada saya agar tamunya diperbolehkan tidur di Masjid pada malam hari. Tetapi saya tidak meluluskan permintaannya. Saya bertanya kepadanya, “Mengapa anda tidak menyediakan tamu anda tempat bermalam di rumah anda?” Iapun mejawab, “Karena saya telah beristri.” Saya pun menawarkan kepadanya, “Kalau begitu, biarkan tamu anda bermalam di rumah saya.” Iapun balik bertanya, “Bukankah andapun beristri?” Saya katakan kepadanya, “Benar, tetapi akan saya usahakan untuk mencarikan ruangan untuknya di rumah saya, atau saya akan carikan hotel untuknya dan saya yang akan membayar biayanya.” Akhi Abdullah pun pergi begitu saja dengan membawa amarahnya. Ia hanya mau melakukan sesuai dengan cara yang diinginkannya. Ia pun menyatakan keberatannya atas perlakuan saya itu kepada saudara-saudara Muslim yang lain. Walaupun ia begitu kecewa, ia tetap pada komitmennya untuk shalat berjama’ah di Masjid. Akhi Abdullah telah menghafal cukup banyak Surah dari Al-Qur’an, pelafalannya pun sangat memesona dan tepat. Saya memintanya menjadi Imam shalat Isya’ setiap hari. Semakin banyak Surah yang ia hafal dari hari ke hari. Ia pun amat menyukai Surah yang baru ia hafal dan cenderung untuk ia bacakan ketika menjadi Imam Shalat. Namun selalu saja ada kekeliruan dalam pembacaan surah yang baru dihafalnya. 

Tentu saja ini menimbulkan perasaan kurang nyaman bagi saudara-saudara Muslim lainnya yang menjadi ma’mum. Saya keluhkan hal itu kepadanya, saya sarankan agar didalam shalat ia hanya membaca surah-surah yang ia kuasai hafalannya dan saya juga minta agar sehari sebelumnya ia bacakan dulu di hadapan saya surah yang akan ia bacakan didalam shalat. Akhi Abdullah suka dengan saran saya ini. Maka ia menjadi lebih baik dan telah memahami sudut pandang saya. Kesalahan-kesalahan bacaannya pun telah hilang seluruhnya dan kerjasama yang didukung sikap untuk saling menolong ini telah menjadi jalan untuk mempererat kembali persaudaraan diantara kami. Pernah juga kami (jama’ah masjid) ada masalah lain dengan akhi Abdullah. Ia pernah terbiasa membacakan surah yang panjang dan dilanjutkan dengan surah Al-Ikhlas didalam setiap raka’at, sehingga shalat berlangsung lama. 

Kadangkala, shalat isya yang ia pimpin bisa berlangsung sampai duapuluh menit. Banyak peserta shalat berjama’ah yang tidak siap menjalani dan memiliki kesabaran cukup dalam hal demikian ini. Saya ungkapkan perasaan para jama’ah ini kepadanya. Iapun menjawab bahwa ia menyukai cara yang ia lakukan itu, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh salah satu sahabat Rasulullah SAW yang selalu menyambung pembacaan surah didalam shalatnya dengan surah Al-Ikhlas setiap kali mengerjakan shalat. Saya katakan kepada akhi Abdullah, “Sepanjang pengetahuan saya, surah Al-Ikhlas hanya disambungkan dengan pembacaan surat lain didalam raka’at ke-dua.” Kembali ia menjawab, “ Saya baca sebuah hadits yang meriwayatkan bahwa itu dilakukan di kedua raka’at.” Maka tak seorangpun dapat mencegahnya membaca sebuah surah panjang diikuti dengan pembacaan Surah Al-Ikhlas di setiap raka’at. Suatu hari saya melihatnya sedang membaringkan badannya disisi kanan dan ditopangnya kepalanya dengan lengan kanannya menjelang shalat Subuh berjama’ah. Saya pun menjadi khawatir dan menghampirinya, saya tanyakan kepadanya adakah terjadi sesuatu pada dirinya. Ia katakan bahwa ia baik-baik saja dan ia menjelaskan bahwa ia melakukan apa yang biasa dilakukan oleh Rasulullah Muhammad SAW untuk beristirahat sejenak dengan posisi tubuh sebagaimana ia sedang lakukan. Akhi Abdullah selalu ingin mencoba melakukan apapun yang ia baca dari Al-Qur’an dan Al-Hadits tanpa sedikitpun merasa canggung ataupun malu. 

Kehidupan rumah-tangganya pun amat mengesankan. Istrinya dan banyak saudara-saudaranya yang masuk Islam melalui usahanya yang gigih mendakwahkan Islam kepada mereka. Ia dikarunia Allah SWT banyak anak. Semua anaknya sangat bagus dalam membaca al-Qur’an. Anak lelakinya yang tertua, waktu itu berumur tujuh tahun, telah hafal sebagian Al-Qur’an atas bimbingan sang Ayah. Bersama-sama sang Ayah pula si anak secara teratur hadir untuk shalat bejama’ah di Masjid, bahkan juga untuk shalat Subuh. Saya belum pernah tahu, adakah ayah-ayah yang lain yang dengan senang hati membawa anak lelaki mereka yang baru berusia tujuh tahun untuk berjama’ah shalat subuh di Masjid, walaupun cuaca begitu dinginnya, lagi bersalju ataupun sedang hujan. Seusai shalat Subuh, akhi Abdullah biasanya mengajarkan Al-Qur’an kepada anak lelakinya itu di Masjid. Maka, jadilah anak lelakinya itu istimewa dalam hal pengetahuan dan pengamalan Islamnya, begitupun perilakunya sungguh menawan. Pembacaan Al-Qur’annya pun seindah sang Ayah. Adabnya bagaikan seorang pria dewasa berusia tigapuluh tahun. Semoga kelak, ia bisa menjadi Imam Masjid yang baik. Seiring berjalannya waktu, akhi Abdullah tidak hanya memegang kunci Masjid, iapun bertanggung-jawab atas pelaksanaan shalat berjama’ah di Masjid. Terpikirkan pula oleh saya, bahwa ia pun telah siap untuk memberikan khutbah Jum’at. Meskipun awalnya sedikit engan, iapun bersedia untuk berkhutbah sekali saja. Itupun telah dikerjakannya dengan amat sangat baik. 

Oleh karena itu iapun selanjutnya ditugasi untuk setiap bulannya satu khutbah Jum’at di Pusat Tauhid Detroit dan satu Jum’at di Pusat Tauhid Farmington Hills, Michigan. Ia laksanakan tugas sukarela ini dengan begitu baik. Tanpa maksud membesar-besarkan, banyak jama’ah yang datang untuk memintanya menjadi Khatib Tetap di kedua Masjid itu. Mereka juga suka mendengarkan pembacaan Al-Qur’an olehnya. Jujur saja, kamipun bisa mengumpulkan infaq-shadaqah lebih banyak di masing-masing masjid itu manakala akhi Abdullah memimpin Shalat Jum’at. Suatu hari diwaktu Subuh, manakala shalat Subuh berjama’ah telah usai dan semua jama’ah telah pulang ke rumah masing-masing, akhi Abdullah datang ke Masjid Pusat Tauhid Detroit bersama seorang akhi Muslim setempat. Saya sedang membaca kitab suci Al-Qur’an ketika mereka memasuki masjid. Mereka pun menunaikan shalat Subuh. 

Setelahnya, saya menyambut kehadiran mereka berdua yang baru saja pulang dari menunaikan ibadah Haji. Saya mendesak mereka agar berkenan singgah ke rumah saya untuk sarapan pagi. Akhi Abdullah menolak ajakan saya, ia katakan bahwa ia belum pulang ke rumah dan langsung menuju masjid. Ini ia lakukan mengikuti Sunnah Nabi Muhammad SAW yang selalu mendahulukan singgah di Masjid sepulang beliau dari sebuah perjalanan, sebelum pulang ke rumah untuk menjumpai keluarga beliau. Saya pun bertanya-tanya dalam hati, seberapa banyakkah orang-orang yang terlahir dari keluarga Muslim yang mengamalkan sunnah Rasulullah SAW ini? Kini, akhi Abdullah suka menertawakan dirinya dimasa lalu yang begitu kaku perilakunya. Ia sekarang telah bisa menerima beraneka-ragam pengamalan ajaran Islam. Iapun sudah mulai bersedia mengumandangkan adzan dari dalam Masjid. 

Setelah akhi Abdullah berkesempatan menyampaikan khutbah Jum’atnya yang pertama, seusai shalat saya memperkenalkannya kepada para jama’ah, saya ceritakan bagaimana kisahnya memeluk Islam dan betapa bangga putranya ikut sang Ayah melaksanakan shalat Subuh di Masjid setiap hari. Begitu selesai perkenalan itu saya sampaikan nampak betapa akhi Abdullah begitu ingin mengetahui tangapan saya mengenai khubtbah yang dibawakannya. Saya katakan kepadanya bahwa khutbahnya baik sekali, iapun menyelesaikan dengan tepat waktu, sementara sering terjadi banyak khatib yang sulit untuk mengakhiri khutbahnya. Ia pun pergi tanpa berkomentar lagi. Setelah shalat Isya’ akhi Hani ingin berbicara dengan saya. Ia berkata, “Akhi Abdullah merasa tersinggung, ia menganggap bahwa memujinya didepan umum sama halnya; sebagaimana yang diriwayatkan sebuah hadits; memotong urat lehernya.” Saya menanggapinya, “Hendaknya anda merujuk juga hadits yang lain, bahwa kitapun dianjurkan untuk menghormati secara patut dan menyampaikan penghargaan kepada siapapun yang pantas menerimanya.” Nabi Syuaib AS juga menekankan agar umatnya tidak kikir memberikan penghargaan yang patut diberikan. 

Hal ini juga tercantum dalam berbagai ayat didalam Al-Qur’an. Banyak orang yang hanya dengan memperhatikan sebuah hadits langsung menarik kesimpulan sendiri. Alhamdulillah saya tidak melebih-lebihkan apapun dalam memperkenalkan dirinya. Terlebih lagi, jama’ah perlu mengenal segala sesuatu mengenai Khatib yang baru. Saya sampaikan pendapat saya ini kepada akhi Abdullah pada keesokan harinya. Iapun merasa puas dengan penjelasan saya. Sebulan setelah kejadian itu, sekali lagi saya memperkenalkannya kepada para jama’ah setelah kedua-kalinya ia menyampaikan khutbah Jum’at. Saya berkata, “Saya bukannya memuji akhi Abdullah, tetapi saya rasa, saya perlu berlaku adil dalam menyampaikan fakta dan mutu sebenarnya dari khatib kita yang baru.” Setelah memperkenalkannya , saya pun menambahkan bahwa tugas dan tanggung-jawab dijalankan bersama-sama. 

Kini akhi Abdullah dan akhi Hani memikul tanggung-jawab atas Masjid manakala saya berhalangan hadir ke Masjid. Mereka berdua menjalankan tugas dan tanggung-jawab mereka dengan baik sekali. Akhi Abdullah mengikuti kelas bahasa Arab pada sebuah perguruan lokal, pengajarnya adalah Dr. Syeikh Ali Suleiman. Maka kini iapun telah mampu berbahasa Arab dengan baik, memahami beberapa tata-bahasanya. Ia pun terus membaca dan menghafal surah-surah Al-Qur’an. Iapun belajar Hadits, memimpin Shalat Jum’at, dan juga membimbing banyak orang yang belum beriman kepada cahaya Islam. Seorang tamatan sekolah menengah dengan ketulusan dan komitmennya telah berhasil mengerjakan hal-hal besar ini, juga memperkenalkan dan mendakwahkan Al-Islam ditengah-tengah masyarakat dari berbagai macam keyakinan. Itulah Akhi Abdullah, salah seorang produk sampingan dari Perang Teluk. Masih banyak lagi serdadu-serdadu lain yang menjadi pemeluk Islam setelah berkunjung ke Saudi Arabia.

Oleh :
Imtiaz Ahmad
M. Sc., M. Phil (London)
Madinah Al-Munawwarah

Tidak ada komentar

Terimakasih Telah Berkunjung, Silahkan Berkomentar Dengan Selalu Mengikuti Peraturan. Dilarang Menggunakan Kalimat Yang Mengandung (SARA, RASIS, PORNOGRAFI, PROVOKATIF & KEBENCIAN).

Diberdayakan oleh Blogger.