7 Kisah Horor Anak Kos, Yang Bisa Membuat Tidurmu Tidak Nyenyak

Setiap tempat ada penunggunya, hal tersebut tepat dikatakan ketika kita menuju lokasi baru. Percaya atau tidak pengalaman luar nalar ini memang akan membekas dalam diri seseorang. Maka, cerita dari tujuh orang tentang kos-kosan mereka ini akan membuatmu merinding.

1. Kos baru yang 'berisik'.


Hari itu aku pindah kos baru yang gak jauh dari tempat pemakaman umum. Malam pertama dan kedua tidak ada masalah, tapi tidak dengan malam ketiga. Malam itu kosku sepi karena rata-rata semua penghuni pulang kampung. Tersisa aku dengan penjaga kos yang ada di kamar ujung paling dalam. Jelang tengah malam, aku terbangun karena seperti mendengar suara orang berlari. Aku mencoba tidak mempedulikannya. Namun, beberapa saat setelah memejamkan mata lagi, suara semakin keras dan pintuku diketuk beberapa kali. 

Aku mulai terganggu dan melihat keluar, tapi tidak ada orang. Kegelapan sepanjang lorong. Hanya ada cahaya di ujung lorong, yakni kamar penjaga kos. Aku mulai kebingungan. Aku mencoba untuk tetap berpikir positif. Kembali tidur, aku terbangun lagi karena suara ketukan pintu itu semakin keras dan dalam waktu yang lama. Aku putuskan untuk keluar kamar dan berjalan di lorong yang sepi itu. Aku menyalakan lampu dan tiba-tiba melihat dua sosok hitam di ujung lorong. 

Aku terdiam, badanku lemas. Keduanya melihatku dengan mata merah menyala. Mereka kemudian seperti berlari ke arahku. Semakin dekat dan cepat, mereka berjarak tidak jauh denganku. Aku takut, tapi tidak bisa berteriak, kemudian aku pingsan ketika mereka semakin dekat.

Aku dibangunkan penjaga kos paginya dengan kondisiku ada di ujung lorong dekat kamarnya. Itu adalah ujung lain dari tempat aku berdiri sebelumnya.

2. Gulingku berubah....


Jadi kosku memang terkenal angker, tapi aku sendiri tidak pernah mengalami hal yang terlalu aneh. Biasanya hanya suara-suara, tapi malam itu aku benar-benar dibuat takut olehnya. Malam itu aku langsung tidur saat sampai kos dari kantor. Aku sudah tidak mempedulikan sekitar. Aku langsung terlelap.

Namun, tiba-tiba aku merasa ada yang menanggil-manggil namaku dalam jarak yang dekat. Aku kira temanku Sri memanggilku karena butuh bantuan. Namun, aku merasa panggilan itu dari arah tepat di belakangku. Aku membuka mataku, tapi kamarku hening, tidak ada Sri. Aku pun merasa ada hal yang kurang nyaman di punggungku. Aku berusaha tidak mempedulikannya.

Aku mengarahkan tanganku ke belakang untuk meraih guling di sisi lain kasur. Saat kupegang, aku merasa memegang tubuh seseorang. Aku panik, ketakutan, tidak berani menengok. Tanganku seperti terhenti digundukan yang lebih tinggi, saatku raba terasa seperti tangan yang terlipat. Aku mulai panik dan tahu itu apa. 

Tidak lama kemudian, aku mendengar namaku dipanggil lagi, dari arah yang sama, belakang. Aku merasa ada sesuatu yang bergerak di kasurku. Semakin mendekat padaku. Aku semakin panik, teriakanku tertahan. Saat dekat, terdengar bisikan, "Tolong, Rini, tolong"... Aku langsung bangun dari kasur dan keluar kamar. Untung saat itu sedang ada pemuda yang nongkrong di depan kosku. Aku terengah-engah dan menangkan diri. Malam itu aku numpang tidur di kamar Sri.

3. Semuanya berantakan, tapi tidak ada yang hilang.


Aku selalu mengunci kamar kosku sebelum pergi. Namun, anehnya ketika aku kembali kamarku selalu berantakan. Ada saja yang jatuh di lantai atau tidak di tempat terakhir aku menaruhnya. Selama seminggu aku tidak peduli dengan hal itu. Sampai satu saat di hari minggu, aku memutuskan untuk tidak keluar kos. Aku ingin tahu siapa yang iseng.

Hari itu aku bangun siang, semuanya masih normal. Tidak ada yang aneh dalam kamar. Namun, saat jam dinding menunjukkan pukul 14.00, aku merasa ada yang memerhatikanku di pojok kamar. Aku merasa tidak nyaman dan memutuskan untuk memasak mie instan di dapur bersama. Saat aku kembali, buku-bukuku yang ada di rak atas sudah berserakan di lantai.

Aku bingung, sangat bingung. Kemudian saat aku makan, buku-buku yang sudah kubereskan itu langsung jatuh lagi ke lantai. Aku kaget! Kemudian, barang-barang yang lain mulai berjatuhan. Aku mulai bingung, tidak ada angin, tidak ada orang lain. Aku semakin panik, aku kebingunan dan ketakutan. Kemudian, aku coba keluar kamar dan suara-suara barang berjatuh mulai terdengar dari kamarku.

Kemudian, aku memberanikan diri untuk buka pintu itu lagi dan sekilas melihat seorang anak dengan kepala plontos dan pakaian lusuh sedang ada di atas rak bukuku. Kemudian, anak itu hilang sambil tersenyum ke arahku. Ketakutan aku menutup pintu kamar dan meminta untuk pindah kamar dengan pemilik kosku.


4.  Akibat main jelangkung.


Malam itu aku dan tiga temanku kebosanan. Malam itu juga malam Jumat, dan tiba-tiba salah satu temanku mengajak kami bermain jelangkung. Katanya iseng saja, tapi aku dengan satu teman lainnya langsung saja mengaku tidak berani. Namun, dua teman lainnya terus menerus memaksa, akhirnya kami setuju.

Tepat pukul 11 malam, persiapan kami selesai. Mulailah kami dengan ritual yang orang-orang sudah banyak tahu. 10 menit berlalu tidak ada hal aneh yang terjadi. Kami memutuskan bahwa tidak ada apa-apa di kos kami. Akhirnya salah satu temanku memutuskan untuk tidur, tinggal kami bertiga dalam kamarku.

Jelang pukul satu pagi, kami mulai mendengar suara orang mencakar-cakar dinding kamarku. Aku bingung, aku kira hanya kucing garong yang biasa keluyuran di sekitar kos. Tidak lama berselang, tiba-tiba ada ketukan keras di pintu kamarku. Temanku langsung beranjak untuk buka pintu, tapi tidak ada orang di luar. Semua penghuni kos sudah masuk dalam kamar masing-masing.

Kami mulai panik, aku meminta teman-temanku untuk tetap dalam kamar. Namun, pintu kamar, jendela, dan pintu lemariku mulai bersuara, seperti ada yang memukul-mukul. Kami sangat panik dan ketakutan. Kami tidak berani untuk berada di dalam kamar, tapi juga tidak berani melihat apa yang di luar. Yang benar saja kami menutup pandangan dan bersembunyi dalam selimut, bertiga. Kami tidak tahu berapa lama, kami hanya berusaha tidak ngompol.

Akhirnya suara-suara itu hilang, dan aku melihat jelangkung kami hilang. Aku beranikan diri untuk membuka pintu kamar, boneka jelangkung itu ada di luar kamar. Kami putuskan untuk langsung membakar boneka itu. Tiga malam berikutnya aku tidak berani tidur di kamarku, aku berpindah-pindah di kamar teman-temanku.

5. Diperhatikan orang lain.


Saat itu aku sedang bersantai dalam kosku. Hari itu aku tidak ada kerjaan. Aku menikmati hari libur dengan nonton film dan internet-an. Aku bingung mau berbuat apa sampai menjelang sore, aku merasa bahwa ada yang memerhatikanku di kamar.

Aku merasa ada yang tidak beres dan mengajak temanku yang dari kamar sebelah untuk bermain di kamarku. Saat temanku sudah ada di dalam, aku tetap merasa ada yang memerhatikan. Aku mulai terus menerus menengok ke pojok atas kamarku. Aku merasa ada sesuatu di situ.

Kemudian, saat temanku meninggalkanku, bulu kudukku berdiri lagi. Aku semakin tidak nyaman. Aku berusaha tenang karena aku tidak bisa ke mana-mana. Aku mencoba tidur siang saja, pikirku. Saat terlelap, aku merasa ada yang meniup-niup mukaku dari atas. Aku terbangun dan tidak ada apa-apa di depan mukaku, tapi perasaan tidak tenang itu masih ada. Kemudian, aku beranikan untuk melihat terus ke pojok kamarku itu. Tiba-tiba seperti muncul sebuah muka, pandanganku buram saat itu. Muka yang pucat dan penuh darah, serta tersenyum ke arahku. 

Langsung saja aku menutup mataku dan keluar dari kamar. Hal serupa terus aku rasakan selama satu minggu, hingga aku putuskan untuk pindah kos.

6. Akhir minggu penuh kengerian.


Aku sedang dinas di luar kota. Agar irit, aku tinggal di sebuah kos dekat dengan kantor cabang perusahaanku bekerja. Aku merasakan pengalaman paling mengerikan saat hari terakhir aku kos di sana. Malam itu aku sudah bersiap-siap untuk keluar dari kos. Setelah semua beres, aku masih memerhatikan sekitar, takut ada yang ketinggalan. Kemudian, aku mendengar ada ketukan dari depan kamar. Aku melihat seorang gadis, mirip putri pemilik kosku. Dia memberikan sebuah roti, tapi dia tak berkata apa-apa. Aku ucapkan terima kasih, kemudian dia langsung pergi begitu saja.

Tak aku pedulikan, aku bersyukur diberi makanan, mumpung aku lapar. Namun, anehnya, rasa roti itu aneh. Saat aku buka isiannya, ternyata ada seekor ulat dalam roti itu. Sontak aku melempar roti itu. Terkejut. Aku bingung, kenapa mereka memberiku roti busuk, padahal satu minggu ini mereka baik-baik saja denganku.

Malam pun tiba, aku merasakan ada yang memerhatikan diriku. Aku merasa banyak orang. Aku melihat sekeliling dalam kegelapan, tapi tiba-tiba kakiku terasa seperti ada yang mengelusnya. Aku kaget dan segera mencari sekring lampu. Tidak bisa menemukannya, aku mulai dengar suara garukan di dinding dan geraman. Aku panik, aku berusaha menggedor-gedor dinding kamarku dan berteriak. Namun, tidak ada suara yang keluar.

Aku merasa semakin sesak, terasa geraman dan suara-suara itu semakin keras. Aku kemudian muntah dan mendengar suara tawa wanita, ramai. Aku terus muntah, sampai-sampai aku pingsan. Saat aku membuka mata, aku ada di depan kamar kosku dan kamar itu terkunci. Aku ceritakan semuanya pada pemilik kosku, dan benar saja semalam mereka tidak meminta anak mereka berikan roti padaku.

Kami akhirnya mendobrak pintu itu dan benar saja, kamarku berantakan, barangku penuh tanah. Lantaiku ada darah dan seperti cairan yang menjijikan. Aku langsung membereskan barangku dan pamit.

7. Aku dan temanku terperangkap dalam kos.


Temanku memang punya kemampuan lebih, dia punya sixth sense. Namun, dia tidak pernah coba menakut-nakutiku. Malam itu aku dan dia habiskan waktu dalam kos sambil nonton. Kami tiba-tiba mendengar suara wanita tertawa dari luar kos. Temanku langsung keluar, tapi tidak ada orang. Sontak dia bilang, "Hey, berisik!" Aku sudah paham kepada siapa dia menghardik.

Kami lanjutkan nonton sampai setetes darah jatuh di lantai kamarku. Temanku langsung memintaku untuk tetap duduk. Dia langsung berdiri dan memandang ke arah pintu. Tetesan darah itu semakin banyak, sampai akhirnya temanku berdoa dan mengucap beberapa ayat. Namun, belum berakhir di situ, mulai ada suara ketokan dari lemariku. Aku panik, temanku memutuskan untuk mengajakku keluar, tapi kami terkunci.

Suara ketokan itu semakin keras, beserta suara erangan serta tawa. Aku panik, sangat panik. Temanku terus berusaha melindungiku. Sampai tiba-tiba aku merasa ada yang memegang kakiku. Temanku langsung memegang erat tanganku sambil berteriak, "Jangan ganggu kami, kami tidak pernah mengganggu kalian!". 

Tak lama aku merasa kepala dan punggungku berat, kemudian pingsan. Saat aku terbangun, kondisi sudah pagi. Aku dikeliling pemilik kos dan beberapa temanku di kos. Aku menanyakan apa yang terjadi. Temanku bercerita bahwa aku kerasukan tidak lama setelah aku pingsan. Diceritakan, aku memarahi temanku dengan kata-kata kasar dan dalam bahasa yang tidak pernah aku kuasai, mandarin. Sejak itu aku meminta untuk pindah kamar, dekat dengan kamar temanku yang punya sixth sense ini.

Sekarang perhatikan pojokan, depan pintu, dan di jendela!!

Sumber idntimes.com (Sumber Gambar : berbagai sumber)

Tidak ada komentar

Terimakasih Telah Berkunjung, Silahkan Berkomentar Dengan Selalu Mengikuti Peraturan. Dilarang Menggunakan Kalimat Yang Mengandung (SARA, RASIS, PORNOGRAFI, PROVOKATIF & KEBENCIAN).

Diberdayakan oleh Blogger.