09 September 2016

author photo
Pemakaman (permakaman) atau pekuburan adalah sebidang tanah yang disediakan untuk kuburan. Pemakaman bisa bersifat umum (semua orang boleh dimakamkan di sana) maupun khusus, misalnya pemakaman menurut agama, permakaman pribadi milik keluarga, Taman Makam Pahlawan, dan sebagainya.

Dilansir melalui laman DW Indonesia, Jumat (09/09/16) Kuburan yang dimaksudkan bukanlah kuburan biasa. Jenazah yang telah diperabukan "ditanam" di sekitar pohon, menyatu dengan alam tanpa batu nisan atau tembok pemisah. Penasaran, berikut informasinya..

Kuburan Ekologis


Jenazah dikremasi lalu dikuburkan pada kedalaman antara 80 dan 120 sentimeter dengan guci biodegradable (bisa terurai oleh organisme hidup lainnya). Tidak dibutuhkan karangan bunga dan sebagainya. Alam yang akan menjaga kuburan.

Tidak Murah


Untuk bisa menyatu dengan alam 'untuk selamanya', biaya yang harus dikeluarkan bervariasi. Pohon "keluarga" untuk masa sewa selama 99 tahun mulai dari 3350 Euro, sementara pohon "komunitas" mulai dari 770 Euro.

Tempat Peristirahatan Terakhir


Para ranger di Friedwald memilih pohon yang sesuai untuk menjadi lokasi penguburan guci abu. Pohon ditandai dengan berbagai warna pita yang berbeda, tergantung dari kategori jenis kuburan pohon, apakah untuk keluarga, pasangan atau komunitas. Setelah pohon 'disewa' seseorang, pitanya akan dilepas.

Tidak Mencolok


Pelat berukuran kecil dengan nama orang yang dikubur bisa dipasangkan pada pohon tempat abunya dikuburkan. 10 orang bisa dikuburkan tiap satu pohon. Ini dinamakan "pohon keluarga". Bagi yang tidak saling mengenal ada "pohon komunitas".


Langit Hutan Bantu Atasi Duka


Thomas Weber, ranger kuburan hutan Hangelsberg Friedwald mengatakan, pohon yang tinggi secara otomatis membuat mata melihat ke langit. Pemandangan langit yang damai, menurutnya, membantu mereka yang tengah berduka setelah kehilangan sosok yang dikasihi.

Mati dan Hidup


Di hutan kerap tumbuh tanaman baru. Sehingga seakan ada kehidupan baru yang muncul setelah jenazah dikuburkan.

Sumber : Deutsche Welle, Wikipedia (Tamsin Walker)
Buka Komentar
Artikel Berikutya Next Post
Artikel Sebelumnya Previous Post
Loading...