10 August 2018

author photo
Ilmiahnya menjelaskan bahwa dejavu adalah anomali ingatan, yang membuat kesan berbeda bahwa suatu pengalaman "diingat kembali". Penjelasan ini didukung oleh fakta bahwa arti dari "mengingat" pada waktu itu sangat kuat dalam banyak kasus, tetapi keadaan pengalaman "sebelumnya" (kapan, di mana, dan bagaimana pengalaman sebelumnya terjadi) tidak pasti atau diyakini tidak mungkin.

Pernahkah mengalami dejavu? Mungkin kamu menerka-nerka seperti kamu pernah mengalami hal seperti tiu 2x dan kamu mungkin juga merasa heran dan penasaran bukan? Meski studi menunjukkan bahwa dejavu banyak dialami oleh individu yang sehat, namun kejadian ini juga bisa merupakan bagian dari kondisi medis tertentu, misalnya kejang dan aura pada migrain.

Dejavu
Aneka Teori dalam Upaya Memecahkan Dejavu

Banyak yang penasaran tentang bagaimana fenomena dejavu bisa terjadi. Berbagai penelitian berusaha menjelaskan bagaimana seseorang bisa mengalami dejavu. Beberapa penjelasan yang ada mengenai fenomena ini, antara lain:

Berhubungan dengan gangguan mental

Awalnya terdapat dugaan bahwa dejavu terkait dengan gangguan mental, seperti kecemasan, gangguan identitas disosiatif (sebelumnya dikenal sebagai gangguan kepribadian majemuk), dan skizofrenia. Namun, penelitian awal yang dilakukan tidak menemukan bukti kuat terkait korelasi di antaranya.

Berhubungan dengan usia dan stres

Menurut penelitian, dejavu lebih sering terjadi pada usia antara 15 - 25 tahun, dan umumnya akan berangsur menghilang seiring dengan pertambahan usia. Di samping itu, kemunculan dejavu juga bisa dipicu oleh stres dan kelelahan. Penelitian yang sama juga mengungkap bahwa dejavu lebih sering terjadi pada malam hari dan akhir pekan.

Gangguan sinkronisasi informasi di otak

Beberapa peneliti menduga bahwa fenomena dejavu terjadi karena adanya ketidakcocokan suatu informasi di dalam otak ketika hendak membuat persepsi yang menyeluruh dari suatu peristiwa, di mana informasi yang ada terlalu sedikit, sehingga yang muncul adalah informasi samar antara input sensorik dan output memory-recall (mengingat kembali informasi dari kejadian lalu). Meski demikian, teori ini pun belum mampu menjelaskan sepenuhnya mengapa dejavu bisa terjadi.

Teori lain yang masih berhubungan dengan dugaan di atas mengatakan bahwa dejavu muncul akibat adanya kegagalan otak dalam jangka waktu yang sangat singkat, sehingga terjadi tabrakan antara memori jangka panjang dan jangka pendek. Pada teori ini dikatakan, adanya penyimpangan jalur memori, di mana memori jangka pendek tersesat ke dalam memori jangka panjang seseorang, akan menyebabkan timbulnya dejavu. Inilah alasan dejavu sering membuat kita seolah-olah pernah merasakan hal yang dialami saat ini di masa lalu.

Gangguan di lobus temporal medial

Penelitian lainnya mencurigai gangguan lobus temporal medial otak sebagai pemicu terjadinya dejavu. Studi yang dilakukan pada pasien epilepsi dengan menggunakan stimulasi listrik menemukan, stimulasi pada area korteks rhinal di otak bisa memicu dejavu.

Meski penyebab terjadinya dejavu belum bisa dipastikan, namun tidak perlu khawatir jika mengalaminya. Hingga saat ini tidak ditemukan bukti yang kuat adanya gangguan serius terkait kesehatan dan kejiwaan seseorang yang mengalami dejavu. Namun, jika dejavu yang Anda alami mulai terasa mengganggu, sebaiknya konsultasi dengan psikiater atau dokter spesialis saraf untuk penanganan yang tepat.

(Ref: wowuniknya.net, alodokter.com, berbagai sumber)
Buka Komentar
Artikel Berikutya Next Post
Artikel Sebelumnya Previous Post
Loading...