23 November 2018

author photo
Wowuniknya.net - Seiring berkembangnya jaman wilayah perkotaan maupun pedesaan mengalami penurunan indeks kualitas udara. Seperti contohnya wilayah perkotaan yang lamban waktu indeks mutu udaranya kian menurun yang diakibatkan oleh pencemaran udara melalui buangan kendaraan bermotor maupun polusi yang dihasilkan pabrik.
Polusi Udara Memangkas Umur
Polusi Udara

Namun tidak sedikit wilayah pedesaan yang dekat dengan lahan mudah terbakar seperti contohnya lahan gambut maupun lahan kering yang mutu udaranya terbilang mengkhawatirkan, inilah yang mengkhawatirkan bagi masyarakat dunia, bagaimana dengan Indonesia sendiri.

Dilansir Deutsche Welle, Polusi udara yang kebanyakan disebabkan oleh penggunaan bahan bakar fossil memangkas tingkat harapan hidup global sebanyak rata-rata 1,8 tahun per individu. Temuan tersebut dirangkum dalam Indeks Kualitas Udara (AQLI) yang dirilis University of Chicago, Amerika Serikat.

Kondisi paling parah misalnya ditemukan di India, di mana 1,4 miliar manusia berpeluang kehilangan 11 tahun dari hidupnya akibat polusi udara. Adapun tingkat harapan hidup di negeri berpenduduk terbanyak kedua di dunia itu sekitar 69 tahun.

Indonesia sendiri misalnya termasuk negara yang mencatat tingkat polusi paling tinggi dan bertengger di urutan 18 dari 220 negara dalam Indeks AQLI. Menurut temuan ilmuwan, tingkat harapan hidup rata-rata penduduk di sejumlah area berkurang sebanyak lima setengah tahun. Angka tersebut berasal dari sejumlah kabupaten di Sumatera dan Kalimantan.
Di Sumatera, kawasan utara Riau dan Sumatera Selatan tergolong yang paling parah dengan pengurangan tingkat harapan hidup antara 2 hingga 5 tahun. Penduduk di kabupaten Ogan Komering Ilir di Sumsel misalnya kehilangan 5,6 tahun akibat polusi udara.

Angka serupa dicatat Kabupaten Pulang Pisau dan Kapuas di Kalimantan Tengah yang tercatat kehilangan 5,2 dan 5 tahun dari harapan usia penduduk.  Adapun tingkat harapan hidup rata-rata penduduk Jakarta berkurang sebanyak 2 tahun.

Untuk studinya ilmuwan menggunakan informasi konsentrasi partikel yang berukuran lebih kecil dari 2,5 mikron (mikrometer). Partikel halus ini ditengarai paling membahayakan karena bersifat ringan sehingga lebih lama bertahan di udara. Tingkat konsentrasi partikel debu halus di udara biasanya diukur dalam satuan mikrogram per meter kubik.

Di Eropa konsentrasi polusi udara dikategorikan berdasarkan potensi bahayanya, 0-35 ugram/m3 berarti tingkat polusi rendah, 36-53 ugram/m3 berarti polusi sedang dan 54-70 ugram/m3 polusi tinggi.
Adapun konsentrasi partikel PM2.5 di Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, berdasarkan temuan ilmuwan adalah sebesar 65 ugram/m3, di Kapuas 60 ugram/m, di Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, sebesar 66,8 ugram/m, serta di Pekanbaru dan kabupaten Siak, Riau, sebesar 62 dan 61,5 ugram/m. 

Ke lima kabupaten adalah kawasan dengan tingkat konsentrasi partikel PM2.5 paling tinggi di Indonesia. Adapun nilai rata-rata konsentrasi partikel di tingkat nasional adalah sebesar 21,6 ugram/m. Atas dasar itu usia rata-rata penduduk Indonesia berkurang sebanyak 1,2 tahun.

Indeks Kualitas Udara (AQLI), kata Direktur Institut Kebijakan Energi di Universitas Chicago Michael Greenstone, mencoba mentransformasi data yang sulit dicerna "ke dalam standar ukuran yang paling penting, yakni umur," ujarnya. Ilmuwan berharap peta interaktif yang mereka kembangkan bisa mempengaruhi pemilih dan pembuat kebijakan publik untuk lebih menyadari bahaya polusi udara.

(Ref: wowuniknya.net, Deutsche Welle, reuters, berbagai sumber)
Buka Komentar

Jumlah 0 komentar

Terimakasih Telah Berkunjung, Silahkan Berkomentar Dengan Selalu Mengikuti Peraturan. Dilarang Menggunakan Kalimat Yang Mengandung (SARA, RASIS, PORNOGRAFI, PROVOKATIF & KEBENCIAN).

Artikel Berikutya Next Post
Artikel Sebelumnya Previous Post
Loading...